1shop’s Blog

November 18, 2008

Sinar Biru Ancam Mata si Buah Hati

Filed under: Article, Bayi, Kesehatan — Tag:, , , — 1shop @ 7:53 pm

KETERBATASAN pengetahuan orangtua terhadap bahaya sinar biru membuat
anak-anak rentan mengalami gangguan mata. Bagaimana tidak, aktivitas
sehari-hari sang buah hati sangat dekat dengan sumber sinar biru, salah
satunya dari layar televisi.

Bukan perkara sulit menemui seorang anak yang tengah menonton tv. Karena
inilah aktivitas yang paling banyak dilakukan anak-anak saat ini. Tidak aneh
bila kalangan pendidik, sudah memberikan peringatan terhadap pengaruh buruk
terlalu banyak menonton tv terhadap perkembangan seorang anak.

Bukan hanya itu, perkembangan kesehatan mata anak pun ikut terancam.
Pancaran sinar dari layar televisi merupakan salah satu sumber sinar biru,
selain pancaran sinar matahari, lampu neon, dan komputer. Sinar yang
memiliki panjang gelombang cahaya 400-500 nm pada spektrum sinar yang masih
dapat diterima mata bisa menyebabkan kerusakan dan menimbulkan luka
fotokimia pada retina mata anak.

“Jika hal ini terus berkelanjutan bisa menyebabkan makula degeneratif yang
terjadi pada anak saat dewasa,” ujar Konsultan Pediatrik Ophtalmologis/
Spesialis Mata Anak Departemen Mata FKUI/ RSCM dr Rita S Sitorus PhD SpM(K).
Dalam jangka waktu pendek, dampak sinar biru dapat mengganggu kerja retina
sehingga menghambat proses pembelajaran melalui mata.

Sinar biru merupakan sinar proses pembelajaran melalui mata yang bersifat
paling merusak dan dapat mencapai retina. Bayi dilahirkan dengan lensa yang
relatif jernih atau bening yang secara bertahap dan alami berubah menjadi
kuning sejalan dengan usia. Risiko terbesar kerusakan akibat sinar biru
yaitu sekitar 70- 80 persen sinar biru dapat mencapai retina pada usia 0-2
tahun dan 60-70 persen pada usia 2 hingga 10 tahun. Adapun sinar biru yang
mencapai retina pada usia 60 hingga 90 tahun hanya mencapai 20 persen.

Untuk memberikan perlindungan terhadap bahaya sinar biru harus dilakukan
sedini mungkin, salah satunya dengan asupan lutein. “Lutein dapat membantu
melindungi mata, terutama retina, dari kerusakan dengan cara menyaring sinar
biru dan juga berperan sebagai antioksidan dengan cara menetralisasikan
radikal-radikal bebas,” ungkap Rita S Sitorus.

Menurut dia, bagian luar fotoreseptor di dalam retina adalah bagian yang
cenderung mudah terkena peroksidasi karena tingginya asam lemak.

Bagian luar fotoresptor inilah yang tinggi akan lutein. Lutein berperan
sebagai antioksidan dan memberi perlindungan pada mata. Tubuh tidak dapat
mensintesakan lutein. Karena itu kebutuhan lutein harus disuplai dari luar
tubuh, salah satunya dari makanan seperti sayuran, buah, suplemen, dan
terutama ASI. Namun, bahan makanan yang mengandung lutein biasanya tidak
disukai, dan jarang dikonsumsi bayi dan balita. Hasil penelitian
menunjukkan, hanya sekitar 10 persen anak yang mengonsumsi sayuran dan
buah-buahan setiap hari.

Kecukupan lutein pada makanan dapat membantu menjamin perkembangan mata yang
sehat pada bayi dan anak. Mata merupakan salah satu indra penting bagi
proses belajar.

Konsultan Neurologi pada Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dr Dwi
Putro Widodo SpA(K) Mmed mengatakan, fungsi penglihatan (visual) adalah
salah satu bagian dalam perkembangan kognitif.

Perkembangan visual adalah jendela dalam sistem kecerdasan dan menjadi
petunjuk penting bagi kebutuhan nutrisi otak. “Ada beberapa nutrisi penting
untuk menjaga kesehatan mata, yaitu Vitamin A, AADHA, Taurine, dan Lutein.
Lutein adalah jenis karotenoid alami yang dapat membantu melindungi mata
bayi dan batita yang masih peka dari bahaya sinar biru. Lutein terdapat pada
ASI dan juga sumber makanan lain, seperti sayuran hijau dan buah berwarna
kekuningan,” ujarnya.

Pada 2004, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA-US)
menyetujui ketentuan dari pengakuan umum tentang keselamatan (GRAS) bagi
lutein dari Tagetes erecta I.

Sebagai zat nutrien bagi makanan bayi dan susu formula. Setahun kemudian,
Komite Evaluasi Gabungan untuk Zatzat Tambahan pada Makanan (ZECFA) dari
WHO/CODEX menetapkan bahwa lutein dari bunga marigold aman digunakan sebagai
suplemen nutrien bagi makanan. WHO menetapkan asupan harian yang diperoleh
(Allowable Daily Intake/ADI) sebanyak 2 mg per kg berat tubuh per hari, yang
ribuan kali lebih besar daripada kadar yang terdapat pada susu formula.
(lenny handayani/sindo/mbs)

sumber: okezone

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: